Reformasi Gereja

Reformasi Gereja, Tonggak Lahirnya Renaisans dan Runtuhnya Monopoli Keyakinan

Reformasi gereja lahir dari adanya ketidakpuasan masyarakat Eropa khususnya Jerman pada waktu itu terhadap kekuasaan gereja yang mulai otoriter dan membatasi segala aspek kehidupan masyarakat, sehingga hak yang dimiliki rakyat Eropa khususnya Jerman dalam segi ekonomi, politik, sosial pada waktu itu sangat terbatas dan hal itu membuat munculnya bibit-bibit ketidakpuasan terhadap gereja yang sudah terlalu jauh memonopoli segala bentuk aspek kehidupan masyarakat Eropa.

Dengan adanya berbagai penyimpangan tersebut membuat orang-orang yang mampu menangkap zeitgeist atau jiwa jaman seperti Martin Luther muncul dengan gagasan bahwasanya semua manusia memiliki hak yang sama dan tidak boleh ada satupun unsur di dunia yang boleh memonopoli seluruh aspek kehidupan masyarakat termasuk gereja. Ditambah dengan adanya berbagai kontroversi yang dilakukan oleh gereja seperti korupsi, nepotisme, dan yang paling menyebalkan menurut Martin Luther ialah surat penebusan dosa yang dilakukan oleh pihak gereja yang di mana perbuatan tersebut sudah keluar terlalu jauh dari ajaran gereja yang otentik menurut Martin Luther.

Martin Luther yang seorang profesor di Universitas Wittenberg Jerman mengeluarkan 95 thesis yang berisi kritikan terhadap gereja dan paus yang ditempelkan di pintu gereja yang ada di kota Wittenberg. Hal itu jelas membuat pihak gereja marah dan mengucilkan Martin Luther.

Marthin Luther dan Reformasi Agama
Source: Kumparan

Bukan hanya Martin Luther yang mengalami hal tersebut. Dalam artikel yang ditulis oleh Indira Ardanamasewari yang berjudul “Jalan Terjal Desiderius Erasmus Mereformasi Gereja di Eropa” di website Tirto.id menjelaskan peran seorang pendeta bernama Deseridius Erasmus yang hidup dengan segala keterbatasannya, berusaha untuk membuat perubahan besar dan yang paling mendasar dari sebuah monopoli penafsiran keliru atas nama agama. Sehingga, nasibnya pun sudah bisa ditebak, yaitu tidak jauh berbeda dengan Martin Luther yang dikucilkan bahkan lebih parahnya ia difitnah mensodomi.

Desiredius Erasmus yang berasal dari Perancis bisa dikatakan sebagai pelopor perubahan sosial masyarakat Eropa yang tumbuh dan besar dari gereja. Akan tetapi, konflik batinnya dengan gereja yang sudah terlalu jauh masuk dalam segala aspek kehidupan masyarakat dan memonopoli keyakinan membuatnya muak dan akhirnya mulai mengkritisi fatwa-fatwa aneh yang dibuat oleh gereja.

Hal-hal yang dilakukan oleh Erasmus seperti menafsirkan dan menerjemahkan manuskrip Al-kitab yang berbeda dari gereja-gereja kebanyakan membuat tafsiran akan Al-kitab tidak lagi tunggal, sehingga masyarakat akhirnya sadar akan kekeliruan gereja dan dampaknya adalah sebuah gagasan revolusioner akan perubahan sosial masyarakat yaitu Reformasi Gereja. hasil dari gagasan tersebut membuat belahan dunia lain lebih tepatnya Jerman memulai reformasi gereja yang diperkasai oleh Martin Luther dan reformasi tersebut menjalar ke seluruh daratan Eropa.

Erasmus yang merupakan revolusioner gereja selalu berpindah-pindah tempat dari Inggris, Belanda, Swiss, dan Perancis untuk memperluas wawasan serta lepas dari pengaruh-pengaruh gereja yang kolot. Dalam perjalanan menentang gereja dan jalan terjal yang dilaluinya dalam memurnikan ajaran agama kristen yang sudah ditafsirkan dengan seenaknya oleh pihak gereja, Erasmus pada akhirnya mendapatkan pengakuan dari para penganut Lutherian sebagai seorang yang membebaskan Eropa dari pengaruh gereja serta dianggap orang paling brilian diabad renaisans.

Secara singkat pengertian reformasi gereja adalah sebuah pemahaman transidendatal yang harus di reformasi pada saat itu, karena semakin absolute-nya kekuasaan Paus dan semakin menyimpangnya ajaran-ajaran kristen katolik sehingga membuat masyarakat tidak berani berpikir sapere aude. Dampak-dampak dari adanya reformasi gereja yang terjadi di Eropa bukan hanya terasa di belahan benua biru saja, tetapi juga menyebrang keberbagai negara di dunia, salah satunya adalah Indonesia yang juga merupakan target dari para misionaris kristen dari katolik maupun dari protestan yang adalah pecahan dari katolik semasa reformasi gereja.

Reformasi gereja terjadi akibat dari adanya kekuasaan Paus yang sudah tidak bisa dibatasi atau terlalu over power membuat para Paus tidak memiliki batasan dalam melanggengkan kekuasaannya, dan hal tersebut mengakibatkan monopoli keyakinan seperti penjualan surat penebusan dosa atau alfat semakin tidak terkendali karena teks-teks dari kitab suci hanya bisa dibaca oleh petinggi gereja. Dan, para petinggi gereja memegang peranan dari semua aspek kehidupan masyarakat akhirnya membuat orang-orang tercerahkan dan mulai melakukan sebuah perlawanan dengan mengkritisi gereja. Sehingga, pada masa inilah eropa mulai terlepas dari abad kegelapan dan terlahir kembali (Renaisans).

Dengan adanya reformasi gereja membuat masyarakat Eropa yang terjebak dalam abad kegelapan mendapatkan secercah harapan untuk bisa meluapkan apa yang menjadi pikiran-pikiran orang tanpa takut ditangkap oleh pihak gereja karena dianggap melakukan bid’ah yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan oleh gereja.

Reformasi gereja yang dilakukan secara bertahap pada akhirnya membuat pertumpahan darah di Eropa pada waktu itu karena dominasi gereja yang terlalu kuat dengan berbagai sokongan dana ataupun peralatan militer membuat reformasi berjalan dengan lama dan sangat berdarah-darah, tetapi pikiran-pikiran akan kebebasan atau freedom dan juga kemerdekaan atau liberty menjadi sebuah motivasi yang kuat bagi para orang-orang yang tercerahkan untuk tetap berjuang dengan berbagai cara.

Bibit-bibit dari lahirnya reformasi gereja bukanlah tanpa sebab dan dengan waktu yang singkat tetapi sudah terpendam sangat lama, ratusan bahkan ribuan tahun lalu, tetapi gerakan untuk membatasi gereja selalu bisa diredam oleh pihak gereja karena masyarakat yang masih takut akan otoritas gereja dan imingan-imingan utopis akan surga dan siksaan neraka. Tetapi, pada akhirnya masyarakat Eropa sadar akan kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan oleh pihak gereja setelah ditemukannya pencetak kertas sehingga membuat kitab suci bisa diproduksi dengan massal yang pada akhirnya membuat tafsiran akan kitab suci menjadi tidak tunggal.

Agama yang seharusnya berfungsi sebagai kesehatan psikologi dan bersifat teks yang berfungsi sebagai pedoman-pedoman hidup yang baik berubah menjadi konteks yang mengatur seluruh aspek kehidupan dalam masyarakat sehingga agama yang sifatnya multi tafsir menjadi salah ditafsirkan dan pada akhirnya membuat tafsiran akan agama berupa manifestasi kebaikan berubah menjadi sebuah alat yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan mengontrol banyak masyarakat serta dipatuhi tanpa ada yang dikritisi.

Hal tersebut membuat banyak masalah disistem masyarakat kerena bayangan utopis tentang surga membuat nalar berpikir menjadi kurang atau tidak berfungsi karena logika sangat dibatasi oleh dogma-dogma agama yang pada akhirnya membuat pandangan atau cara berpikir masyarakat menjadi sangat dibatasi dan kebenaran ditentukan oleh gereja sebagai pemegang otoritas tertinggi yang suci.

Reformasi gereja menjadi sangat penting bagi masyarakat dunia, karena melahirkan renaisans dan renaisans berdampak sangat penting bagi kehidupan masyarakat Eropa dan dunia pada khususnya. Dengan tidak adanya renaisans maka bisa dipastikan sejarah dunia yang kita lihat sekarang tidak akan sama seperti apa yang kita lihat karena masih sangat mungkin masyarakat Eropa atau dunia pada khususnya, terjebak pada persoalan-persoalan dogmatis yang akan selalu dimonopoli oleh orang-orang yang memegang kekuasaan tertinggi dalam institusi agama.

Penulis: Agus Salim (Mahasiswa Pendidikan Sejarah UHAMKA Angkatan 2021).

2 Comments

  1. Terimakasih agus yoyoy sangat membantu

  2. Bikin tulisan yang Radikal dong

Leave a Reply to Yoyoy Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *