Menjadi Mahasiswa yang Radikal

Jika berbicara tentang mahasiswa, maka tidak lepas dari gambaran seorang yang berpendidikan dan memiliki kesempatan lebih untuk mengenyam pendidikan di sebuah perguruan tinggi. Sehingga, paradigma masyarakat ketika melihat mahasiswa adalah orang-orang yang dinilai mampu untuk menyelesaikan berbagai problematika yang terjadi dalam realitas sosial.

Mahasiswa menjadi instrumen penting dalam kehidupan sosial masyarakat dan seringkali dianggap sebagai kelompok yang memiliki pandangan visioner dan juga progresif serta diharapkan sebagai Agent of Change. Mahasiswa yang notabene merupakan orang berpendidikan dan juga orang yang memiliki waktu luang untuk mendiskusikan berbagai persoalan dalam kehidupan sosial masyarakat, membuat mahasiswa seringkali menjadi salah satu lokomotif utama SLOT THAILAND dalam berbagai gerakan untukĀ  mereformasi perubahan sosial.

Hampir dalam semua gerakan menuntut perubahan atau reformis sosial maupun pemerintahan selalu diutarakan dan juga digagas oleh para mahasiswa yang memiliki pandangan-pandangan progresif ke depan dan juga pandangan-pandangan radikal dalam menuntut suatu perubahan yang dirasa merugikan. Dan hal-hal yang dirasa merugikan pada akhirnya membuat tumbuhnya kesadaran kolektif di kalangan para mahasiswa. Sehingga, hal tersebut membuat para mahasiswa yang memiliki pandangan-pandangan progresif dan radikal bertindak secara terorganisir baik dalam bentuk diskusi dan juga gerakan untuk membuat sebuah perubahan  cepat terkait dengan realitas yang ada.

Gerakan-gerakan untuk menuntut sebuah perubahan sosial tidak akan terjadi dalam lingkup mahasiswa apabila mahasiswa tersebut tidak memiliki pandangan yang progresif dan juga radikal. Tetapi, apa itu Radikal? Mendengar istilah radikal, mayoritas orang akan berpikiran bahwasanya pandangan tersebut merupakan pandangan yang dianggap merugikan, serta membahayakan bagi kehidupan sosial masyarakat, padahal pandangan tersebut merupakan komponen utama untuk membuat suatu perubahan, serta juga memiliki konotasi positif pada awal perkembangannya.

Sumber: Rumahfilsafat.com

Radikal berasal dari bahasa latin yaitu radic yang artinya akar, sehingga dalam perkembangan istilahnya radikal sering diucapkan untuk keperluan berbagai istilah keilmuan untuk menggambarkan sesuatu yang sifatnya dari akar dan mengakar. Sehingga, segala sesuatu yang prosesnya dari akar dan mengakar maka ia akan disebut dengan radic atau radikal. Sejalan dengan itu, istilah radikal menurut KBBI adalah orang yang berpikiran maju dan progresif, sehingga istilah radikal seharusnya bisa menjadi sebuah pandangan yang memiliki konotasi baik karena sesuai dengan kaidah epistemologi artian radikal adalah sebuah pikiran yang maju ke depan dan progresif.

Tetapi, istilah yang memiliki arti dari akar dan mengakar tersebut berubah menjadi suatu paradigma yang negatif bagi sebagian kelompok orang. Istilah tersebut dipakai untuk berbagai kegiatan yang mendongkrak pikiran seseorang dari akar pikirannya untuk membuat suatu perubahan sosial dan juga membuat gerakan sosial untuk menumbangkan dan mengganti realitas yang ada, sehingga kelompok orang yang membenci pikiran radikal adalah orang yang berpikiran konservatif dan juga retrogratif.

Istilah radikal mulai dikenal saat Revolusi Perancis, yang di mana kata istilah radikal tersebut menggambarkan sekelompok orang yang berusaha untuk menggulingkan sistem monarki yang ada di Perancis. Sehingga, orang-orang yang menginginkan perubahan tersebut disebut orang Republiken dan juga mereka menyebut dirinya sebagai orang radikalis.

Menghadapi sebuah gerakan sosial yang terjadi di Perancis, Inggris yang masih berbentuk monarki merasa khawatir peristiwa yang terjadi di Prancis terjadi di kerajaan Inggris. Sehingga, pada waktu itu para politisi yang berada di Inggris terbelah menjadi dua, yaitu orang-orang yang menginginkan revolusi Inggris untuk mengganti sistem dan juga orang-orang yang masih setia mendukung monarki Inggris. Dan orang-orang yang masih setia mendukung monarki Inggris menyebut para oposan yang mendukung Revolusi dengan sebutan radikal.

Berbagai peristiwa dan gerakan yang terjadi di belahan dunia pada akhirnya juga turut andil dalam mereduksi makna radikal. Radikal pada akhirnya selalu dikaitkan dengan berbagai gerakan politik yang akhirnya membuat konotasi radikal menjadi sebuah paradigma negatif di masyarakat, karena pandangan tersebut akan selalu dikaitkan dengan suatu gerakan ekstrem untuk menuntut sebuah perubahan dengan drastis. Padahal, pandangan yang menggunakan berbagai cara untuk membuat gerakan yang drastis  dalam sosial maupun politik disebut dengan radikalisme yang memiliki makna berbeda dari radikal itu sendiri.

Parahnya lagi, artian kata radikal dikaitkan dengan agama tertentu oleh orang-orang yang secara eksplisit tidak mengetahui dan tidak memahami apa itu radikal, sehingga  menambah ketidakjelasan konfigurasi dari radikal sebagai alat untuk mendobrak cara pandang serta berpikir mendalam terkait problematika tertentu dan juga cara berpikir . Akhirnya, hal tersebut menjadikan orang-orang yang sebenarnya mampu dan berani untuk berpikir radikal mengalami stigma yang kurang mengenakan dari sebuah kultur masyarakat yang retrogratif.

Dan akhir-akhir ini, mahasiswa takut sekali apabila gerakannya dan pikirannya dianggap sebagai hasil dari buah pikiran yang radikal, padahal seharusnya mahasiswa berbangga apabila gerakannya dan pikirannya dianggap sebagai buah dari hasil gagasan-gagasan radic, karena cara pandang dan gerakan yang radikal menjadi sebuah cara dan idealisme mewah yang berhasil merubah setiap realitas sosial. Contohnya seperti kemerdekaan Indonesia tidak akan tercapai apabila pemuda pada waktu itu tidak berpikiran radikal, lalu orde lama tidak akan runtuh dan demokrasi terpimpin akan terus diwariskan apabila mahasiswa angkatan 66 tidak berpikir secara radic mengenai problematika pemerintahan yang mengarah kepada rezim diktatorian, serta gerakan untuk menumbangkan rezim orde baru dilakukan oleh para mahasiswa yang berani berpikir secara radikal mengenai bobroknya rezim orde baru.

Pada intinya, cara berpikir dan gagasan-gagasan radic berfungsi untuk mendobrak cara berpikir kuno serta konservatif. Sehingga, seharusnya makna dari radikal tidak dipersempit hanya untuk kepentingan menjatuhkan lawan pikiran yang berbeda, tetapi lebih dari itu makna dari radikal seharusnya menjadi sebuah makna yang diartikan untuk membuat perubahan yang lebih baik. Tetapi, pandangan tersebut mungkin masih sangat jauh untuk sebuah masyarakat yang masih mengedepankan egoisitas dan primordialis, sehingga sangat disayangkan deformasi radikal belum mengarah pada konotasi positif sebagai sebuah cara berpikir yang mendalam, ditambah dengan adanya era post-truth menjadikan hermanitic radikal semakin tambah parah.

Dan pada akhirnya, perubahan makna atau derevasi terhadap konotasi radikal semakin tambah buruk, sehingga deformasi makna radikal seharusnya menjadi poin penting yang diangkat oleh mahasiswa sebagai orang yang lebih beruntung dalam mengenyam pendidikan untuk memberikan diskursus kepada masyarakat agar lebih memahami makna radikal itu sendiri. Dan sebagai mahasiswa seharusnya cara pandang radikal menjadi sebuah cara untuk membuat sebuah perubahan serta menjadikan pikiran radikal sebagai sikap moral dan visi kebudayaan untuk perubahan yang lebih baik.

Penulis: Muhamad Agus Salim (Mahasiswa Pendidikan Sejarah UHAMKA Angkatan 2021)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *