Melihat Kesaksian Bambang Widjanarko Dari Catatan Julius Pour

Pada tulisannya digambarkan bagaimana Bambang Widjanarko memberikan ungkapan mengenai fakta-fakta bagaimana keterlibatan Bung Karno dalam peristiwa mengejutkan pada awal Oktober tahun 65. Fakta ini terdapat pada buku yang berjudul the devius dalang, eye-witness report by Bambang Widjanarko terbit pada tahun 1974, yang akhirnya dipersebarluaskan terdapat isinya mengenai bagaimana perintah-perintah Presiden Soekarno yang tujuannya untuk menghabisi para Jendral yang tidak loyal kepada Presiden. Di sini, saya akan mengupas kembali bagaimana pernyataan dari Bambang Widjanarko mengenai faktanya pada tahapan pertama adanya kemunafikan pada petinggi Angkatan Darat.

Adanya Jendral yang melaporkan, bagaimana yang terjadi di belakang Bung Karno mengenai gagasan dan idenya yang dibantah, sedangkan di depan Bung Karno mendukung ajaran dan perintahnya. Sehingga, pada 4 Agustus 1965 terjadinya komunikasi antara Presiden dengan salah satu gembong PKI, yaitu Letnan Kol. Untung supaya cepat melakukan penindakan pada Jendral yang tidak loyal terhadap Bung Karno. Sampai sebelum meletusnya peristiwa, tanggal 23 September 1965 perintah Bung Karno kepada Jendral Sabur, Jendral Sunarji, dan Jendral Soedirgo sama pada perintahnya untuk bisa mengambil tindakan bagi jendral yang tidak loyal.

Pada saat meletusnya peristiwa dahsyat, sikap Bung Karno menarik perhatian sehingga menuai fakta yang berlanjut. di Istora Senayan atau yang sekarang Stadion Gelora Bung Karno, Presiden sangat bersemangat dan ceria hingga mengkaitkan dengan kisah Bhagava Gita. Pada akhirnya, Bung Karno merobek surat yang berasal dari Letkol Untung dan menghilangkannya. Inilah beberapa fakta mengenai bagaimana Presiden pertama kita Ir. Soekarno mendapatkan tuduhan atas keterlibatannya dalam peristiwa nahas tersebut.

Banyak sekali bantahan yang diberikan untuk bisa mengundurkan pernyataan yang diberikan oleh Bambang Widjanarko, walaupun Bung Karno mendapatkan tuduhannya sebagai inisiatoris atau dalang, tetapi banyak sekali yang membela bapak presiden. Seorang dari kesatuan Tjakrabirawa Kolonel Maulawi Saelan yang waktu itu menjabat sebagai wakil komandan dari kesatuannya mengatakan. “…Tetapi pada saat itu Pak Sabur dan Untung tidak ada karena mereka sedang tidak bertugas. Lantas, kapan dan di mana perintah Presiden disampaikan kepada Untung?”.

Begitulah bagaimana terjadinya kontroversi di dalam peristiwa mengejutkan ini yang menciptakan banyak sekali dugaan dan penafsiran oleh banyaknya hasil pemikiran dari penulisan sejarah ini. Bukan hanya sejarawan Indonesia yang mencoba melukiskan dan menafsirkan bagaimana yang terjadi di dalam Gerakan 30 September. Kita sebagai mahasiswa sejarah wajib mengikuti bagaimana metode penulisan sejarah ini berjalan. Dalam bagian kritisasi sumber kemudian mengaitkan dengan pernyataan di atas kita wajib mengkritisi siapakah Bambang Widjanarko? Bagaimana latar belakang Bambang Widjanarko semasa hidupnya? Siapa penulis buku yang berjudul the devius dalang, eye-witness report by Bambang Widjanarko, buku yang bisa terbit pada masa pemerintahan Presiden Soeharto? Lalu apa tujuan dari penerbitannya buku tersebut hingga diizinkannya oleh pemerintah pusat?

Penulis: Ikmal Nauhan Qurrohman (Mahasiswa Pendidikan Sejarah UHAMKA Angkatan 2022)

Referensi: Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, & Petualang. Catatan Julius Pour.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *