Latar Belakang & Perkembangan Lekra dalam Politik dan Kebudayaan di Indonesia

Lembaga Kebudayaan Rakyat atau lebih dikenal sebagai LEKRA merupakan salah satu organisasi yang berfokus pada pengembangan kebudayaan, sastra, dan kesenian. Dibangun dengan landasan menghimpun revolusi kemerdekaan tahun 1945, lembaga ini berkembang sedemikian pesat di seluruh Indonesia. Lekra juga didukung oleh pemerintah karena perannya yang menyokong kegiatan-kegiatan revolusi 45. Lekra juga didukung oleh beberapa kalangan terkemuka pada awal berdirinya lembaga tersebut, misalnya seperti D.N Aidit (Ketua Partai Komunis Indonesia), Njoto (salah satu tokoh penting dalam PKI), M.S Ashar, dan A.S Dharta (KPG, 2015).

Konsep gerakan Lekra berfokus dalam seniman, sastrawan, maupun pegiat budaya lainnya. Identitas Lekra sendiri mengacu pada slogan Revolusi 45 yang membawa gerakannya pada seni yang berhaluan Realisme Sosial besuan Maxim Gorky yang hasil-hasil karyanya berupa penindasan terhadap rakyat, kemiskinan, kesengsaraan rakyat, dan lain sebagainya. Lekra juga memberi ruang bagi siapapun untuk masuk dan juga menjadi partisipan dalam kegiatan kebudayaanya. Dengan demikian Lekra menjadi lembaga yang inklusif terhadap pencarian anggotanya, tetapi tidak dengan haluan ideologinya yaitu Realisme Sosial. Konsep Realisme sosial yang dibawakan oleh Lekra merupakan konsep baru yang dikumandangkan di Uni Soviet, dan diusung untuk digunakan sebagai landasan eksistensi Lekra dalam produksi kebudayaan (Zulkifar dkk, 2022).

Lekra memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi produksi kebudayaan pada masa itu, perannya dalam menciptakan dan mengorganisir sebuah karya seni ataupun sastra di berbagai daerah. Di beberapa daerah misalnya seperti Medan, Sumatera Utara, peran Lekra dalam menciptakan suasana yang dekat dengan masyarakat melalui kebudayaan-kebudayaan di sana (KPG, 2015). Karena Lekra terfokus pada rakyat sebagai produksi kebudayaan, lekra berkembang sampai di seluruh pedesaan yang ada di Indonesia. Karenanya banyak masyarakat yang antusias dan tertarik untuk bergabung atau berpartisipasi ketika Lekra mengadakan sebuah pertunjukan (Fitrianingrum dkk, 2018).

Berperan sebagai lembaga yang memproduksi kebudayaan untuk rakyat, Lekra tampil sebagai suatu entitas yang berupaya untuk meningkatkan standar kebudayaan lokal ataupun nasional. Menolak gagasan imperialisme dan kolonialisme serta menggaungkan slogan Revolusi 45, bahkan seringkali lekra menyerang melalui media massa mereka yang kontrarevolusioner. Serangan tersebut gencar dilakukan oleh para anggotanya. Anggota Lekra aktif dalam melakukan penulisan dan produksi kebudayaan melalui surat kabar. Beberapa surat kabar seperti Harian Rakyat, Bintang Timoer, termuat beberapa tulisan-tulisan para anggota lekra sendiri (Zulfikar dkk, 2022).

Selain media massa, Lekra juga membentuk sebuah majalah yang dibentuk pada tahun 1950, yaitu majalah Majalah Zaman Baroe. Melalui majalah zaman baru, Lekra gencar menyerang pihak-pihak kontra revolusioner, dianggap tidak berpihak kepa7da rakyat atau beberapa pihak yang berbeda haluan dengan Lekra itu sendiri. Majalah Zaman Baru bentukan lekra berkembang seiring perkembangan lekra di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Pemimpin Redaksi Majalah Zaman Baru dipegang oleh Rivai Apin dan A.S Dharta.

Perkembangan Lekra dalam Politik dan Kebudayaan di Indonesia

Sumber: Kompas

Sejak pertama kali didirikan pada tahun 1950, Lekra dengan gencar mengkampanyekan kontrarevolusioner di seluruh penjuru Indonesia melalui puisi-puisi, cerpen, ataupun novel di majalah ataupun surat kabar. Lekra sendiri seringkali dianggap merupakan lembaga yang secara tidak langsung berada di bawah pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) karena beberapa pendirinya merupakan tokoh penting dalam partai tersebut. Ditambah dengan gagasan Lekra yang serupa dengan Parta Komunis Indonesia, menambah nuansa bahwasanya Lekra merupakan bagian dari PKI. Aidit bahkan pernah mengupayakan agar Lekra secara resmi tergabung dalam bagian dari Partai Komunis Indonesia, namun usul itu ditolak oleh Njoto dan beberapa anggota-anggota lainya. Akan tetapi, secara gagasan baik Lekra maupun Partai Komunis Indonesia memiliki haluan yang serupa, karena mau bagaimanapun Lekra secara ideologis lebih dekat dengan Partai Komunis Indonesia (Rosidi, 2015).

Orientasi Lekra juga memberikan sudut pandang bahwa memang secara haluan ideologi, antara Lekra dengan PKI memiliki jalan yang sama. Peran Lekra sendiri dalam kesejahteraan rakyat sering kali digambarkan melalui karya-karya sastra maupun seni-seni lainnya. Beberapa karya sastra ataupun kesenian Lekra memberikan gambaran mengenai penindasan terhadap rakyat. Karya bentukan Lekra juga memberikan pengaruh terhadap kondisi sosial masyarakat pada masa itu, alhasil kebanyakan masyarakat tertarik kepada Lekra sebagai perwakilan dari rakyat (KPG, 2015).

Pada awal-awal kemerdekaan atau kondisi pasca Revolusi 45, keadaan Indonesia memang diliputi oleh pelbagai ketidaksejahteraan masyarakat yang sangat timpang. Alhasil, karya-karya lekra dianggap memberikan dukungan dan simpati terhadap kondisi masyarakat banyak. Produksi karya-karya Lekra pada akhirnya berkembang dan diminati oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Seniman-seniman Lekra kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah yang memang secara ekonomi ataupun sosial berada di bawah rata-rata. Terlebih lagi Lekra memberikan ruang bagi mereka untuk berkarya dan turut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan ataupun festival yang diadakan oleh Lekra (Foulcher, 2020). Dengan demikiran Lekra sebagai lembaga yang memproduksi kebudayaan berkembang sangat pesat. Dukungan langsung dari pemerintah yang memang tertarik dengan gagasan Lekra membuat Lekra leluasa dalam memproduksi kebudayaan secara masif.

PenulisArdiansyah (Mahasiswa Pendidikan Sejarah UHAMKA Angkatan 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *